Panggung politik kini mulai diisi
generasi muda yang tentunya bukan hanya sekadar tampil untuk pemenuhan
kuota politik semata, melainkan bagian upaya untuk menjadi pengambil
keputusan dalam setiap momentum.
Peran politik pemuda dapat dilihat pada partisipasinya sebagai bagian dari sistem politik yakni dalam suprastruktur politik dan infrastruktur politik. Dalam suprastruktur politik, pemuda merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam sistem pemerintahan.
Caleg DPR RI Partai Golkar nomor 5 Dapil 1 Sulsel (Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Selayar) ini mengatakan, sebagai warga negara setiap pemuda harus memahami tentang hak dan kewajibannya sebagai warga negara, termasuk melakukan bela negara. Dalam infrastruktur politik, pemuda dapat berkiprah dalam kegiatan partai politik, kelompok kepentingan, kelompok penekan maupun kelompok anomalis. Inilah arena politik yang dapat digunakan oleh pemuda dalam berpartisipasi secara politik.
Emil menjelaskan, ada 3 indikator generasi muda yang memiliki andil dalam pengembangan demokrasi. Pertama, memiliki jiwa kepeloporan, yang dimaknai sebagai keberanian untuk memberikan respons pro-aktif terhadap tantangan bangsa dan negara, mampu memunculkan gagasan yang bersifat orisinal dan berani, terkait dengan perannya sebagai pembaharu yang didasarkan pada ilmu pengetahuan.
Kedua, memiliki sifat keterbukaan yang ditandai dengan bisa menerima pluralisme pendapat, sikap dan perilaku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yang diarahkan pada upaya menemukan alternatif terbaik dari semua gagasan yang ada.
Ketiga, memiliki sikap kebersamaan, yang diartikan sebagai kecenderungan untuk lebih memperhatikan kepentingan umun daripada kepentingan pribadi tanpa memaksa orang yang terlibat di dalamnya untuk mengorbankan harga dirinya bagi kepentingan bersama itu.
Sumber : fajar.co.id